A. Pengertian Budaya dan Kebudayaan
Kata budaya memiliki banyak definisi, baik secara sempit maupun secara luas. Menurut Ihromi (1994: 18) dalam jurnal (http://elearning.gunadarma.ac.id/ docmodul/pengantar_antropologi/bab2kebudayaan.pdf) kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak mengenai sebagian dari hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau diinginkan.
Menurut Koentjaraningrat (1994: 73-74) kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yaitu merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan menurut ilmu antropologi pada hakikatnya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1996: 72). Pada jurnal lain http://prasetijo.wordpress.com/ 2008/09/11/definisi-kebudayaan-menurut-parsudi-suparlan-alm/, disebutkan bahwa definisi kebudayaan menurut Parsudi Suparlan adalah sebagai berikut.
“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.” (Hlm. 2-18 alinea I)
“Sebagai pengetahuan, kebudayaan adalah suatu satuan ide yang ada dalam kepala manusia dan bukan suatu gejala (yang terdiri atas kelakuan dan hasil kelakuan manusia). Sebagai satuan ide, kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai-nilai, norma-norma yang berisikan larangan-larangan untuk melakukan suatu tindakan dalam menghadapi suatu lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam, serta berisi serangkaian konsep-konsep dan model-model pengetahuan mengenai berbagai tindakan dan tingkah laku yang seharusnya diwujudkan oleh pendukungnya dalam menghadapi suatu lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam. Jadi nilai-nilai tersebut dalam penggunaannya adalah selektif sesuai dengan lingkungan yang dihadapi oleh pendukungnya.” (Hlm. 2-19/2-20 alinea terakhir).
“…melihat kebudayaan sebagai: (1) Pengetahuan yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat yang memiliki kebudayaan tersebut; (2) Kebudayaan adalah milik masyarakat manusia, bukan daerah atau tempat yang mempunyai kebudayaan tetapi manusialah yang mempunyai kebudayaan; (3) Sebagai pengetahuan yang diyakini kebenarannya, kebudayaan adalah pedoman menyeluruh yang mendalam dan mendasar bagi kehidupan masyarakat yang bersangkutan; (4) Sebagai pedoman bagi kehidupan, kebudayaan dibedakan dari kelakuan dan hasil kelakuan; karena kelakuan itu terwujud dengan mengacu atau berpedoman pada kebudayaan yang dipunyai oleh pelaku yang bersangkutan.
Sebagai pengetahuan, kebudayaan berisikan konsep-konsep, metode-metode, resep-resep, dan petunjuk-petunjuk untuk memilah (mengkategorisasi) konsep-konsep dan merangkai hasil pilahan untuk dapat digunakan sebagai pedoman dalam menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapi dan dalam mewujudkan tindakan-tindakan dalam menghadapi dan memanfaatkan lingkungan dan sumber-sumber dayanya dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan untuk kelangsungan hidup. Dengan demikian, pengertian kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan adalah sebagai pedoman dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.” (Hlm. 4-1 alinea II & III)
Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
Sebagai pengetahuan, kebudayaan dengan demikian adalah suatu satuan ide yang ada dalam kepala manusia dan bukannya suatu tindakan yang merupakan satuan gejala. Sebagai suatu satuan ide yang menjadi pedoman bagi tingkah lakunya, kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai-nilai, norma-norma, dan model-model pengetahuan, baik dengan secara sadar maupun tidak, baik secara rasionil maupun secara intuitif dan penuh perasaan, telah digunakan secara selektif oleh yang bersangkutan untuk memahami dan menjadi pedoman tingkah lakunya dalam menghadapi lingkungan alam, sosial, dan budaya.” (Hlm. 5-6 alinea II & III)
Dari urian di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan berasal dari kata budaya. Budaya dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pendayagunaan cipta, rasa, karsa, serta hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia dengan melibatkan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.
B. Unsur-Unsur Budaya
Kluckhom (dalam Koentjaraningrat, 1996: 80-81), mengemukakan bahwa terdapat tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang sebagai isi pokok dari setiap kebudayaan, yaitu:
1. bahasa,
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam Primbaon Bab Lintang Kemukus tidak ditegaskan bagaimana segi bahasa tersebut terimplikasi dalam suatu masayarakat yang dikisahkan dalam teks, akan tetapi analisis bahasa dapat dilakukan berdasarkan penggunaan bahasa Primbon Bab Lintang Kemukus, yaitu bahasa Jawa ragam krama yang dapat diinterpretasikan bahwa tingkatan budaya masih tinggi.
2. sistem kekerabatan dan organisasi,
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral. Dalam teks Primbon Bab Lintang Kemukus, sistem kekeluargaan tidak teridentifikasi. Yang terdeteksi adalah unsur-unsur yang terdapat sistem pemerintahan, yaitu ratu/raja, bupati, dan penduduk desa, yang dikisahkan dalam primbon dalam berbagai keadaannya.
3. sistem peralatan hidup dan teknologi,
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu: alat-alat produktif , senjata, wadah, alat-alat menyalakan api, makanan, pakaian, tempat berlindung dan perumahan, serta alat-alat transportasi.
Berdasarkan penjabaran teks Primbon Bab Lintang Kemukus, dapat diinterpretasikan bahwa sistem peralatan dan teknologi yang digunakan adalah sistem peralatan dan teknologi persawahan di lingkungan pedesaan. Hal ini tercermin dari adanya kutipan maesa ’sapi’ dan lembu ‘kerbau’ dalam teks.
4. sistem mata pencaharian hidup,
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya: berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan. Senada dengan hasil analisis unsur budaya sistem peralatan dan teknologi dalam Primbon Bab Lintang Kemukus, maka diperoleh hasil interpretasi mata pencaharian penduduk adalah bertani dan berladang. Hal tersebut diperkuat dengan adanya kutipan wos pantun, tetuwuhan, serta woh-wohan.
5. sistem religi dan kepercayaan,
Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
6. kesenian.
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
C. Wujud Budaya
J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2002) membedakan adanya tiga ‘gejala kebudayaan’ : yaitu : (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact, dan ini diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengan tiga wujud kebudayaan :
1. wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
3. wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Mengenai wujud kebudayaan ini, Elly M. Setiadi dkk (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut :
1. Wujud Ide/Gagasan
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Dalam teks Primbon Bab Lintang Kemukus, wujud ide atau gagasannya adalah ketika ada gagasan dari setiap raja harus berbuat apa pada saat munculnya bintang berekor ( lintang kemukus). Ada raja yang berinisiatif untuk mrndatangi desa, ada raja yang berinisiatif untuk melakukan perang, ada pula yang tetap pada pendiriannya. Selain itu, adanya ide ketika semua barang dagangan sulit dicari dan bahan makanan menjadi langka maka harga padi dan beras menjadi mahal. Ketika banyak tumbuhan yang tidak tumbuh karena tidak ada air hujan maka semua harga pun menjadi mahal. Begitu juga sebaliknya , ketika semua tumbuhan tumbuh karena sering hujan maka semua harga pun menjadi murah.
2. Wujud Perilaku/Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Dalam teks Primbon Bab Lintang Kemukus ini wujud budaya yang berupa aktivitas atau tindakan adalah sikap para raja di setiap desa ketika muncul bintang berekor. Ada raja yang kesusahan, ada raja yang kemudian mendatangi desa, ada raja yang perang, ada raja yang tetap hatinya, dan ada pula raja yang justru bersenang-senang tidak memikirkan rakyatnya. Selain dari sikap para raja, wujud tindakan lainnya terlihat pula pada sikap rakyatnya yang berbeda-beda saat muncul bintang berekor.Ada yang kesusahan, ada yang mengalah terhadap raja, dan ada pula yang mendapatkan kesenangan.
3. Wujud Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan. Dalam teks Primbon Bab Lintang Kemukus ini wujud budaya yang berupa artefak atau karya yaitu berbagai jenis makanan saperti beras dan padi yang merupakan wujud fisik. Selain itu, sapi dan kerbau juga merupakan wujud budaya artefak (fisik).
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. Berdasarakan tiga wujud kebudayaan yang sudah dijelaskan di atas yaitu gagasan ( ide), tindakan atau aktivitas, dan artefak (karya) maka relevansi teks tersebut untuk kehidupan masa kini adalah sebagai berikut.
Pertama, manusia harus siap menghadapi segala situasi (waspada), baik itu buruk maupun baik sekalipun. Dalam teks Primbon Bab Lintang Kemukus disebutkan bahwa ada raja yang bingung bahkan sampai mati ketika muncul bintang berekor. Hal itu menunjukkan bahwa dia tidak siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk (wonten raja ngajal, utawi sami geger... )
Kedua,manusia senantiasa harus bersyukur kepada Tuhan. Hasil yang akan diperoleh jika manusia selalu bersyukur kepada Tuhan maka semua akan baik-baik saja. Tuhan akan selalu membantu manusia dalam setiap langkah manusia karena Tuhan lah yang menentukan kehidupan manusia. Manusia boleh berencana tetapi Tuhan lah yang menentukan ( wonten raja tetep, bupati kurmat, tiyang dhusun sami bungah, wos pantun mirah, terus sedaya mirah, sarta taneman dados, jawah deres lami sedaya mirah , saking karsanipun ingkang kuwasa ).
Ketiga, yaitu manusia harus mempunyai pendirian dan harus saling tolong-menolong. Jika manusia mempunyai pendirian yang tetap maka segala sesuatunya akan menjadi baik-baik saja (wonten raja tetep, bupati kurmat, tiyang dhusun sami bungah, wos pantun mirah, terus sedaya mirah, sarta taneman dados, jawah deres lami sedaya mirah , saking karsanipun ingkang kuwasa).
KAJIAN BUDAYA TEKS PRIMBON BAB LINTANG KEMUKUS
Reviewed by Hendi Widyatmoko
on
4/12/2011 11:37:00 AM
Rating:

Tidak ada komentar: